6. Maaf Adalah Sebuah Kunci
Semua
berjalan semestinya, menurut Lexa, tapi tidak menurut Fero. Lexa benar-benar
mementingkan organisasi-organisasi nya, ya atas nama professional. Namun Fero
sabar, tidak jarang dia menunggu Lexa di sekolah, menunggu Lexa selesai rapat
atau latihan. Bukan hitungan menit tapi hitungan jam, bisa dari siang hingga
sore, atau kalua masih dibilang sore karena sering pula selesai saat hari mulai
gelap.
Seperti itu mereka selama Lexa belum
menaruh hati kepada Fero. Banyak hal yang tidak diminta Lexa, namun diberikan
oleh Fero. Banyak hal kecil yang dilakkan Fero membuat Lexa tanpa sadar bukan
hanya sedang proses menaruh hati kepada Fero, melainkan Lexa sedang menggali
untuk menyimpan hatinya dalam-dalam kepada Fero.
*
Hari ini Lexa sibuk, untuk yang
entah keberapa juta kali Lexa sibuk, dan Fero sabar. Hari ini Lexa mendampingi
anggota ekskulnya yang mengisi acara pada salah satu perlombaan. Perlombaan ini
juga salah satu rangkaian acara menyambut pensi sekolah mereka, double sudah
pekerjaan Lexa. Saat itu Fero tidak membuntuti Lexa bahkan tidak ada di
sekolah, sebenarnya Lexa mencari dia karena tumben sekali Fero tidak
mendampinginya tapi Lexa juga merasa bersyukur akhirnya dia tidak harus
merepotkan Fero untuk yang kesekian Kalinya.
Hingga acara selesai Fero pun tidak
ada kabar, Lexa piker dia mungkin sedang nongkrong sama temen-temennya atau
sudah pulang. Tapi ini sudah tidak wajar, akhirnya Lexa mengirim chat ke Fero.
Alexandra
Mariam:
Feroooo
Cukup lama
namun akhirnya Fero membalas
Fero
Pratama:
Kabarin
kalo udah mau balik.
Alexandra
Mariam:
Kamu
dimana emang? Kalo udah di rumah gakpapa aku pulang banyak barengan ko.. nanti
nebeng atau naik angkot aja
Fero
Pratama:
Kabarin
kalo udah mau balik.
Alexandra
Mariam:
Kamu
kenapa si? Aku nanya kamu dimana
Fero Pratama:
Aku bilang
kabarinnya kalo udah mau balik.
Akhirnya Lexa menyerah, dia masih
membantu teman-teman yang lain bersih-bersih selama acara. Setelah itu Lexa
menunggu adik kelasnya dan teman-teman yang lain pulang semua, yaa jabatan
tinggi juga memiliki tanggung jawab tinggi, dia dan beberapa temannya yang
merupakan panitia inti pensi pulang paling belakangan memastikan sekolah
kembali bersih setelah acara dan anak-anak pulang tidak larut malam.
Lexa ragu untuk chat Fero atau
tidak, dia tidak ingin merepotkan Fero lagi, di satu sisi sebenarnya dia takut
dengan sikap Fero yang seperti marah itu namun Lexa juga sangat penasaran
alasan Fero. Dia merasa hari itu sama sekali tidak melakukan kesalahan, sejak
tadi pagi Fero menjemput dia, mereka baik-baik saja dan belum bertemu kembali
sam[ai mala ini. Akhirnya Lexa memutuskan untuk mengabari Fero karena tidak mau
semuanya bertambah rumit.
Alexandra
Maria :
Fer.. Aku
udah selesai ni, aku Cuma ngabarin ya kayak yg kamu suruh.. udah malem, gak
harus jemput ko
Rasa penasaran Lexa tidak melebihi
rasa tidak enaknya, tidak enak yang terus merepotkan Fero.
Fero
Pratama :
Sama siapa
di sana?
Alexandra
Maria :
Masih
banyak temen ko..
Fero
Pratama :
Di sekolah
dimananya?
Alexandra
Maria :
Di lobby
Fer.. udaah kita ketemu besok aja ih gaenak aku gamau ngerepotin
Dan Fero tidak membalas lagi,
perlahan-lahan beberapa teman Lexa pulang namun Lexa bingung harus bagaimana.
Fero tidak bilang ingin jemput tapi dari pertanyaannya sepertinya Fero jemput
tapi dia juga tidak enak dengan teman-temannya yang menemaninya menunggu Fero
Karena teman-temannya ingin memastikan Lexa benar-benar dijemput.
Setengah jam berlalu akhirnya Fero
dating, Fero berjalan belum sampai ke hadapan Lexa namun berhenti..
“Pulang.”
Hanya itu
yang Fero katakan, pelan, namun bisa didengar oleh siapapun yang ada di sana
apalagi oleh Lexa. Lexa langsung berpamitan kepada teman-temannya dan bergegas
mengejar Fero yang sudah balik badan menuju ke motornya.
Sedari motor dinyalakan sampai dekat
rumah Lexa, mereka hanya saling diam. Fero yang terlihat sangat kesal dengan
Lexa, dan Lexa yang tidak tahu sama sekali apa yang sedang terjadi. Sampai
akhirnya Lexa memberanikan bicara.
“Ro kamu
kenapa?” dengan suara yang begitu parau
“Ro aku
bener-bener gaktau kamu kenapa” Lexa
“lu mana
pernah tau lu4 kenapa” Fero
“kamu yang
bilang kalo ada apa-apa ngomong, mana bisa tebak-tebakan gini, iya aku minta
maaf kalo aku salah, tapi aku gaktau atau mungkin gak sadar aku salah” Lexa
“ngapain
minta maaf kalo gak salah” Fero
“Aku bilang
kan gak tau atau gak sadar bukan gak salah” Lexa
“gua
pernah bilang berubah jangan jadi orang yang cuek, seenaknya, lu kira gua apa”
Fero
“iyaa aku
udah berusaha kan ga seenaknya lagi sama kamu, gak asal marah aja padahal
garagara apa tau kamu yang kena, iya aku coba. Tapi kali ini bener aku gak tau
kenapa.. aku aja Cuma liat kamu tadi lewat sekali di sekolah tibatiba kamu
gini” Lexa
“itu lu
liat guakan terus ngapain banting pintu hah, lu tuh keterlaluan, gaenak diliat
Dika tadi” Fero
“banting
pintu? Kapan? Eh sumpah aku gak inget sama sekali” Lexa
“tadi tuh
gua sama Dika dating baru jalan mau ke ruangan anak ekskul lu udah mau sampe
depan pintu malah lu bantung pintunya ditutup apa maksudnya coba” Fero
“eh sumpah
sumpah aku gak liat kamu sama sekali, gak engeh sama sekali.. ngebanting pintu
juga kapan.. mungkin aku tadi lagi kesel sama anak-anak ekskul aku terus tutup
pintu dibanting dan sama sekali gak liat kamu” Lexa
Fero hanya
diam
“Ro udah
dong beneran aku gak liat sama sekali bener deh sumpah kamu ga percaya sama
aku?” Lexa
“Yaudah
tapi jangan begitu lagi” Fero
Akhirnya
Lexa tertawa karena kesalahpahaman tersebut.. lalu mereka berdamai kembali.
Yaa.. sesederhana itu sebuah perkara jika dibicarakan besama-sama dengan kepala
dingin. Sesingkat itu menyelesaikan sebuah perkara jika semua mau menyampaikan
juga mau mendengar. Dan yang terpenting, seberapa besar ataupun kecil sebuah
perkara, sebesar apapun sebuah kesalahan atau sebuah kesalahpahaman, maaf
adalah sebuah kunci yang akan membuka dan membebaskan kita menuju sebuah kata
damai.
Hingga suatu ketika, Lexa dan Fero
sampai ke suatu titik dimana mereka sulit bahkan tidak pernah mendapatkan
solusi untuk sebuah perkara yang tidak pernah mereka bicarakan.
Komentar
Posting Komentar