Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

3. Senyum Harap

          Tepat setelah dua hari ulang tahun Lexa, Fero menyatakan niatnya lagi. Lexa tidak terlalu menebak memang kapan tepatnya Fero akan menyatakan niatnya lagi, namun ia tau cepat atau lambat Fero akan mengatakan itu lagi dan Lexa sudah menyiapkan jawaban untuk hari itu. Tidak, Lexa tidak menjawab ‘iya’. Dia mengajak Fero bicara panjang. “Gini loh Fer. Ya.. lo udah tau lah semuanya, gue pun udah pernah cerita. Udah dua kali gue ditinggal gitu aja, tiba-tiba. Berturut-turut pula selama satu tahun belakangan ini. Jujur gue udah capek banget sebenernya. Gue ya bisa dibilang trauma juga. Yang terakhir kemarinpun, yang gue liat dia itu orang yang baik banget, walaupun gue ga jadian sama dia, tapi perlakuan-perlakuan dan kata-katanya udah buat gue milih dia, tapi nyatanya.. gue tetep ditinggal. Orang yang gak gue duga itu aja bisa ninggal gitu aja. Gue bukannya ga percaya sama lo, gue Cuma takut. Dan ya yang kayak lo tau lah, gue tuh orangnya tempramen bang...

2. Jadian Yuk

             Hari ini Lexa siap tempur kembali, dia begitu bersemangat untuk sekolah lagi. Lexa rindu dengan sekolahnya, yaa walau sudah tidak ada sosok manusia yang dirindukannya di sekolah tapi entah mengapa dia hanya rindu dengan suasana sekolah. Lexa berharap hari ini tidak buruk dengan kelas barunya yang baru akan diumumkan.             Saat melihat daftar nama-nama kelas setelah upacara, Lexa terkejut. Dia kesal mendapat kelas 11 ipa 6, lagi-lagi kelas pojok. Benar-benar sial menurutnya. Namun saat dia melihat nama-nama orang yang ada dikelasnya, yaa not bad lah , pikir Lexa. Ada beberapa orang yang memang sudah dia kenal sejak SMP dan ada mantannya juga. Lexa senang bisa sekelas dengan mantan yang sudah dua tahun terakhir itu menjadi stranger semenjak mereka putus. Bukan dia senang karena masih memendam rasa, tapi Lexa senang karena dia berharap bisa berteman ...

1. Seorang Malaikat Hadir

            Siang ini cukup panas. Rumah-rumah tampak sepi penghuni. Tentu saja kaerena para penghuni sedang menari-nari dengan kegiatan mereka di luar sana. Ada juga yang di dalam rumah, tapi pasti mereka sedang terlelap. Dipertengahan bulan puasa seperti ini, tidur adalah pilihan paling utama bagi orang-orang yang tidak memiliki kewajiban di luar sana. Dan hal yang cukup melelahkan bagi mereka yang sedang menjalankan kewajibannya.             Lexa merasa beruntung karena sudah libur sekolah, jadi dia tidak perlu menahan teriknya matahari di ruang kelas dengan dongeng-dongeng yang disampaikan oleh guru yang seringkali membawanya ke alam mimpi. Tapi saat di rumah seperti ini justru Lexa tidak ingin ke alam mimpi, tidak bisa, lebih tepatnya. Kehilangan sekitar dua bulan lalu memberi guncangan yang cukup hebat untuk hidup Lexa. Sekarang dia hanya memandang langit-langit k...