5. Bulan-bulan Tersulit Bagi Fero


Hari demi hari Lexa dan Fero semakin lengket, semakin mebuat banyak orang “gemas” dengan mereka. Fero yang sangat perhatian terhadap Lexa adalah salah satu hal yang membuat banyak orang gemas dengan mereka, begitu pula Lexa yang gemas bercampur semakin jatuh hati pada Fero.
            Bulan-bulan pertama hubungan mereka ternyata Lexa menyimpan sesuatu, sesuatu yang entah bisa dirasakan Fero atau tidak. Lexa belum jatuh hati pada Fero. Lexa belum merasa memiliki perasaan sayang kepada Fero hingga bulan keempat mereka manjalani hubungan. Dan empat bulan pertama yang biasa bagi Lexa mungkin adalah bulan-bulan tersulit bagi Fero.
                                                                        *
            Lexa terpilih menjadi seorang ketua sebuah ekstrakulikuler, entah apa yang dilihat dari seorang Lexa dia sendiri tidak tahu dan tidak menyangka. Bermula dari dia hanya ikut-ikutan sahabatnya, Vita masuk ke dalam ekstrakulikuler ini karena dia sendiri tidak tahu ingin masuk ekskul mana. Lalu dia hanya terus berlatih dengan giat dan berkontribusi penuh dalam organisasi ini hingga membawa namanya terpilih menjadi ujung tombak organisasi.
            Beberapa minggu setelahnya Lexa direkrut kawan lamanya, dari kepanitiaan pensi, ya organisasi yang mempertemukannya dengan si “malaikat”, Lexa diajak untuk bergabung kembali dalam kepanitiaan tersebut, bahkan dengan posisi yang cukup penting. Sebelum temannya ini bicara serius tentang perekrutan ini, Lexa selalu menolak dan bilang ingin istirahat, ingin fokus ke ekskulnya juga fokus ke belajarnya. Tidak ada sebersitpun Lexa berfikir ingin fokus melewati hari bersama Fero, karena Lexa sebegitu belum jatuh hatinya pada Fero.
            Dengan perbincangan yang cukup serius tentang pensi selanjutnya, Lexa yang sangat suka berorganisasi dan juga sudah terlanjur cinta dengan pensi sekolahnya akhirnya menyanggupi ajakan tersebut dengan catatan Lexa tidak menduduki jabatan utamanya dan mereka sepakat Lexa ikut dengan menduduki jabatan kedua. Lagi lagi Lexa tidak memikirkan Fero sama sekali dan secara tidak sadar dia juga sudah mengorbankan waktu main juga waktu belajarnya dengan mengikuti dua organisasi dengan kedudukan yang cukup penting.
*
“kamu jangan ikut karena aku, aku Cuma bilang aja aku ikut panitia pensi juga” Ucap Lexa saat sedang mengobrol dengan Fero.
“Yaa mau gimana lagi Lex.. daripada kita susah ketemu kan? Masa aku ikut ekskul mu gak mungkin juga isinya cewe semua, jadi satu-satunya tempat aku bisa sering ketemu kamu caranya aku ikut kamu” Fero yang dari kepanitiaan pensi sebelumnya pun sudah terlihat tidak terlalu berminat dengan berorganisasi yang akan menguras waktunya yang akan mengikat waktu juga tenaganya sekarang berubah fikiran.
“tapi aku gak nyuruh loh, gak maksa juga. Aku gak mau kamu jadinya setengah-setengah lagi nanti kayak dulu. Masalah ketemu gampang pasti bisa diatur itumah.” Lexa bilang gini atas dasar sebuah kata ‘profesional’, demi keprofesionalan dirinya juga Fero. Lexa benar-benar tidak ingin membebani Fero dengan membuat Fero menjalani hal yang tidak ia inginkan hanya untuk bertemu Lexa. Walaupun Lexa belum jatuh hati kepada Fero, dia tidak membebani Fero.
            Itulah sosok Lexa. Sosok yang justru tidak akan tega membebani orang-orang yang begitu baik kepadanya, ketika dia belum jatuh hati dengan seseorang yang menaruh hati kepadanya, dia tidak akan dengan sengaja minta ini itu, membuat repot ini itu mentang-mentang orang itu rela memberikan dan melakukan apa saja untuk Lexa.
            Mungkin bisa dibilang Lexa ini terbalik dengan kebiasaan wanita-wanita lain. Ketika banyak wanita memanfaatkan seorang pria yang benar-benar menaruh hati kepadanya, ketika banyak wanita bisa berfikir ‘lah kan lo yang mau sama gue, lo yang mau aja nurutin semua keinginan gue, yauda’ Lexa tidak bisa seperti itu, bukan hanya tidak mau tapi juga tidak bisa, tidak sampai hati.
            Lexa berfikir ketika dia belum memiliki perasaan apa-apa kepada seorang pria berarti belum ada yang dia berikan untuk pria tersebut, walau saat dengan Fero dia tetap bersikap layaknya seorang kekasih yang tetap ada perhatian, tetap selalu bertukar kabar, tetap saling bertukar cerita. Tetapi Lexa belum menjadi dirinya yang sebenarnya. Lexa masih menjadi dirinya yang sama seperti di depan teman-temannya yang lain. Masih menjadi Lexa yang mandiri, yang penuh maklum, yang tidak terlalu memusingkan tentang Fero juga tentang hubungan mereka.
“Iya tenang aja aku gak bakal kayak kemarin lagi, aku beneran mau lanjutin panitia pensi. Itung-itung perwakilan dari ekskul ku juga kan nanti di acara” Fero adalah seorang wakil ketua dari ekstrakulikuler music di sekolah mereka. Fero ini adalah pria yang tidak kalah hebat juga dari Lexa. Dia hanya tidak terlalu mau terikat aktif di sekolah karena banyak hal lagi yang Fero lakukan di luar salah satunya dia memiliki band. Ya sedari smp dia suka music dan sudah beberapa kali tampil di sekolah juga di luar bersama teman teman yang berbeda.
            Akhirnya Lexa dan Fero masuk ke dalam kepanitiaan tersebut. Organisasi yang mempertemukan mereka dengan seseorang. Lexa bertemu si malaikat, yang entah masih dianggap malaikat atau tidak oleh Lexa. Namun dari sudut pandang Fero, justru dia bertemu Lexa, menemukan Lexa lebih tepatnya, yang ternyata sudah menarik perhatian Fero sejak dalam kepanitiaan tersebut. Padahal mereka jarang berkomunikasi di organisasi tersebut atau bisa dibilang nyaris tidak pernah. Namun ada satu percakapan yang mereka berdua ingat, dan berdasarkan pernyataan Fero, itu adalah percakapan pertama mereka.
            Percakapan pertama Lexa dan Fero terjadi bukan saat di dalam rapat atau saat di perjalanan ke lapangan dalam rangka cari dana ataupun meyiapkan persiapan untuk pensi. Percakapan pertama mereka justru terjadi di hari pensi berlangsung, itupun ketika pensi telah selesai.

Saat itu semua orang baik panitia yang ada di dalam organisasi maupun panitia dadakan yang membantu pensi tersebuat benar-benar sedang kelelahan. Itu adalah hari yang panjang untuk mereka dimana bisa dibilang puncak segala perjuangan panitia yang dirintis dari nol, benar-benar nol. Mereka tidak punya senior yang bisa membantu atau berbagi cerita tentang bagaimana menuju hari pensi yang sukses karena pensi sebelumnya sekolah mereka sudah cukup lama dan bisa dibilang lumayan gagal. Ditambah pula hari itu hujan, sederas-derasnya hujan yang bahkan untuk menjalani plan A saja mereka tidak punya bayangan dari siapapun apalagi untuk menjalankan plan B, alias plan hujan.
            Saat semua yang terlibat sedang lelah-lelahnya bahkan ada yang sampai pingsan atau sakit, Lexa merasa dia salah satu orang yang hari ini memiliki tugas tidak terlalu berat maka dia memutuskan tetap bekerja, merapihkan sekolah, membantu teman-teman lain.
            Saat Lexa sedang bersih-bersih sendiri di salah satu ruang kelas, seseorang dating, dan Lexa fikir oh.. ada yang bantu nih, syukurlah, rada pegel juga si sebenernya
”Lex, Lex..” seseorang memanggil Lexa dari luar kelas
“yaa” Lexa menjawab
“ooh lu disini.. Lex make sandal gue ga?” orang ini ternyata Fero
“ini oh ini sandal lu? Iya gue pinjem tadi rame banget jadi asal pake aja” Lexa salah sangka, Fero bukan mau bantu, dia Cuma cari sandal
“gue ambil ya, soalnya mau nganter kak Dian balik dia sakit”
“oh iya gapapa ni”

Selesai. Sebatas itu percakapan mereka selama berbulan-bulan terlibat dalam satu organisasi. Tidak istimewa, sedikit berkesan karena Lexa agak malu. Tapi membuat mereka berdua ingat, entah kenapa Lexa yang tidak begitu memperhatikan Fero juga ingat malam itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PULANG

Tidak Sempat

Warna Berbeda Yang Sudah Menghilang