4. Ngedate Pertama


Nge-date Pertama
            Suatu hari Fero memberikan kejutan kecil kepada Lexa, ‘kejutan kecil’ hal yang membuat Lexa—seseorang yang cukup sederhana untuk ukuran perempuan—bahagia. Fero memberikan dua tiket menonton pertunjukan teater sekolahnya yang sedang mengikuti sebuah perlombaan besar. Nge-date pertama mereka, bisa dibilang begitu. Selama Fero mendekati Lexa, ya mereka hanya menghabiskan waktu pulang dan berngakat bareng. Weekend pun tidak bertemu, hari untuk keluarga, begitu bagi Fero. Laki-laki ini, bisa dibilang jatuh hati duluan kepada Lexa, selalu memprioritaskan Lexa, tapi tidak diatas keluarganya, tidak diatas kakaknya yang walau mereka sering berbeda pendapat,bukannya wajar persaudaraan seperti itu?. Apalagi orang tuanya, bukan sekedar cinta, namun Fero juga sangat menghormati kedua orang tuanya, bahkan bisa dibilang mengidolakan.
            Hari itu tiba, hari pertama mereka ngedate, ngedate yang tidak biasa menurut Lexa karena mereka juga tidak benar-benar berdua, mereka berkumpul bersama teman-teman sebelum berangkat ke tempat pertunjukan teater. Tempatnya cukup jauh apalagi Lexa dan fero tidak tau jalan, maklum waktu yang mereka habiskan pun hanya saat berangkat dan pulang sekolah, itupun mungkin Cuma ditambah muter-muter sebentar. Maklum lagi mereka anak SMA yang sama-sama terdidik sederhana, gak bisa nongkrong di café atau mal. Untuk beli bensin aja sama makan indomie, tapi itu yang justru kena tepat ke hati Lexa pelan-pelan.
            Mereka berangkat, dengan suasana yang cukup asing karena mereka berasal dari jurusan yang berbeda, dari teman-teman yang berbeda, juga cara bergaul yang berbeda. Mereka sekolah di tempat yang sama, namun di lingkungan yang berbeda. Dan kebanyakan saat itu adalah teman-teman Fero yang hadir. Oke gakpapa, walau sebenarnya Lexa agak tidak nyaman dengan proses adaptasi ini, tapi toh mereka satu sekolah Lexa bisa tambah teman.
            Sesampainya di tempat teater, Fero mengajak Lexa untuk bergabung dengan teman-temannya dan ya ini adalah hal sederhana yang sulit menurut Lexa. Lexa adalah wanita yang terlihat ramah, mudah bergaul, asik, seru, namun dibalik itu ada proses sulit yang harus Lexa alami. Dia phobia beradaptasi dengan orang baru. Lexa terdidik di keluarga yang tidak banyak mendengar, apalagi Lexa yang berstatus anak bungsu. Dia terdidik hanya mendengar tapi tidak berbicara, dia terdidik dengan bahwa apapun yang dia inginkan adalah hanya keinginan seorang anak kecil yang tidak pernah benar dan tidak boleh mengutarakan pendapatnya kalua dia itu benar. Lexa terdidik di keluarga yang ramai, yang banyak orang dewas, yang cukup egois, hingga semua merasa pendapatnya benar. Jika berpendapat maka teriakanlah yang didapatkan oleh Lexa, kata-kata yang menyalahkan yang selalu bermakna ‘Lexa masih kecil, gak tau apa-apa’. Segala mufakat tidak dihasilkan dari musyawarah, harus ada adu ego dulu, harus ada teriakan dulu. Sehingga Lexa terbiasa takut berbicara karena takut salah bicara. Tapi dia akan berubah 180 derajat ketika bersama orang-orang yang Lexa sudah yakin bisa mendengarkan dia. Tapi Fero, akan menjadi orang yang bisa mendengar Lexa sepenuhnya, bisa menjadi teman haha-hihi yang sempurna untuk Lexa tetapi juga bisa menjadi teman berpikir kritis yang baik untuk Lexa.
            Berkumpulnya Lexa dengan teman-teman Fero tidak menjadi momen yang baik untuk Lexa, saat itu mereka masih menunggu pintu teater dibuka, hingga akhirnya Lexa menyerah dan izin meninggalkan perkumpulan itu untuk bergabung bersama temannya yang lain yang sudah lebih ia kenal. Setelah pintu teater dibuka pun, Lexa minta sama Fero untuk antri berdua, jangan gabung bersama teman-temannya. Terlepas dari Lexa yang phobia beradaptasi, ada sesuatu yang Lexa rasakan, ada atmosphere yang mengganjal diantara teman-teman Fero, entah apa, tapi rasanya Lexa ingin menarik diri dari sana. Lexa belum menyimpulkan, tapi ada sesuatu.
            Hari itupun diselesaikan dengan Lexa minta mereka kembali kerumah tidak bersama teman-teman yang lain, mereka berpisah dan menghabiskan waktu bersama hingga larut. Tidak kemanamana, mereka hanya bercengkrama di atas motor. Entah kenapa itu menjadi cukup dan menjadi sangat private tanpa harus booking restoran dengan meja private. Mereka berhasil bercerita banyak hal dari dalam diri di atas motor. Mungkin itu juga yang membuat Lexa dan Fero bisa mengutarakan banyak hal, karena perbincangan akan lebih mudah ketika kita tidak melihat mata lawan bicara namun merasakan sentuhan lawan bicara. Teori darimana itu? Jelas berdasarkan pengalaman penulis.
*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PULANG

Tidak Sempat

Warna Berbeda Yang Sudah Menghilang