Tidak Sempat
Ternyata tahun ini aku belum sama sekali menulis di blog ini. Wah sudah benar-benar usang. Tapi kali ini aku bukan ingin meneruskan cerita tentang si Fero dan Lexa. Fyi, sesulit itu ternyata menulis yang melibatkan perasaan. Setiap melanjutkan kisah Fero dan Lexa, aku perlu menggali lagi potongan kenangan yang sudah tertimbun jauh di dalam pun perlu menyusun potongan-potongan tersebut agar menjadi utuh.
Ya.. kali ini aku tidak mau membahas mereka atau kisah nyata di balik mereka. Kali ini aku ingin bercerita tentang seseorang. Kembali lagi seperti fungsi awal blog ku ini, tempat bercerita dan menyampaikan sesuatu kepada seseorang. Orang ini belum pernah sekalipun ku bahas dalam blog ini. Ya.. dia orang baru di blog ini. Tapi tidak baru di hidupku. Bukan juga orang yang pernah jadi sesuatu yang lebih.
Hanya saja.. aku pernah mengaguminya, mungkin masih, atau mungkin pun tidak. Hanya saja.. aku merasa terlalu jauh kalau mengharapkan bisa bersamanya. Ini pikiran ku dulu, dan mungkin masih sampai sekarang. Aku merasa terlalu kecil, tidak bisa menyeimbangi pembicaraannya. Seringkali aku terlihat bodoh dan bertindak bodoh di depannya. Aku dan dia sepertinya memang tumbuh di lingkungan yang cukup berbeda walau di kota yang sama. Dia punya ambisi dan cita-cita, sementara aku tidak. Dia punya tekad yang kuat, sementara aku tidak. Dia punya sikap dewasa, sementara aku yang sering dibilang dewasa, pun tidak cukup dewasa untuknya.
Mengagumi seseorang adalah hal yang wajar, standar. Kebanyakan orang pasti memiliki seseorang yang dikagumi. Tapi, yang beda dan baru aku sadari adalah ketika aku menemukan sebuah pertanyaan di salah satu media sosial yang berbunyi "hal terbucin apa yang pernah kamu lakukan selama hidup?" dan setelah aku ingat-ingat ternyata hal paling bucin adalah hal yang aku lakukan untuk orang ini.
Aku terkejut, karena bagiku dia hanya seorang teman yang aku kagumi. Well walau sebenarnya dengan mengaguminya saja bisa membantuku mengobati dan mengalihkan perasaanku dari masa lalu yang sangat aku cintai saat itu. Dia bisa membuatku meninggalkan masa lalu terindahku. Tapi kala itu aku menganggapnya adalah obat dengan dosis yang pas. Dia mengobatiku tapi tidak membuatku tergila-gila seperti dengan yang sebelumnya. Aku jatuh hati dengannya, dulu. Ya sudah hanya itu.
Ya aku terkejut. Tidak ada tindakan yang lebih nekat dibanding apa yang aku lakukan untuknya. Hanya demi melihat dia secara langsung kalau dia baik-baik saja. Hanya demi ada untuknya walau mungkin keberadaanku tidak berarti apa-apa dan jelas keberadaanku tidak akan mengubah apa-apa. Apa itu yang aku lakukan? ya biar aku saja yang tahu. Hmm beberapa orang juga mengetahui ini sih.
Aku ingat-ingat lagi.. Kala itu aku bukan bertindak yang langsung gegabah, walau tetap gegabah. Aku sempat bertanya kepada beberapa teman, namun mereka tidak ada yang melarangku. Mungkin mereka tahu bagaimana perasaanku, atau mungkin mereka takut malah membuatku makin kacau jika melarang. Dan saat itu semua berpihak kepadaku, semua berjalan lancar seperti seharusnya. Hal tergila yang pernah aku lakukan demi seseorang, yang bahkan aku tahu saat itu sudah ada orang lain disampingnya. Lebih cepat datang dibanding aku pun lebih dibutuhkan.
Dia.. bukan pertama kalinya aku merasakan kehilangan padahal tidak memiliki. Tapi bisa dibilang pertama kalinya aku.. ah entahlah pertama kalinya apa. Aku butuh berpikir lama bagaimana mengungkapkannya tapi sudahlah aku kan menumpahkan pikiran kok malah jadi mikir hehe.
Seperti biasa.. aku menulis sesuatu di blog bukan karena aku tidak berani berkata langsung. Ya.. dia sudah tahu semua yang aku rasakan dan memang keadaan tidak berpihak padaku. Aku sudah pernah mengungkapkan semuanya. Aku sudah melewati semua fase, fase seperti orang asing pun sudah. Dan mungkin ini saatnya merestart semua. Toh aku sudah sempat jatuh hati lagi setelah lama sulit melupakannya. Ya.. walau tetap kandas pada akhirnya. Walau tetap sad ending.
Dia.. adalah kehilangan yang dihasilkan karena ketakutan ku. Tapi tidak apa-apa. Kalau dulu aku tidak takut dan bersamanya, belum tentu sekarang kami bisa merestart semua. Bisa jadi justru aku benar-benar kehilangan dia, menjadi orang asing seterusnya.
Komentar
Posting Komentar