Postingan

PULANG

Hai 2025.. sudah lama aku yang suka menulis ini tidak menulis. Ternyata sudah 5 tahun sejak terakhir menulis di blog ini pada tahun 2020. Aku sudah terlalu jauh dari menulis. Sepertinya aku memang sudah terlalu jauh dari diriku sendiri, dari siapa aku sebenarnya dan seharusnya. Bukan sejak 2020, tapi mungkin sejak 2018. Aku melangkah kehilangan arah hingga akhirnya sekarang aku benar-benar tersesat. Benar-benar terjerembab ke dalam jurang yang sangat dalam. Wajar saja aku akhirnya terjatuh, aku sendiri yang ternyata tidak bisa, tidak mampu menuntun diriku sendiri untuk menjalani hidup dengan benar. Tanpa aku sadari, aku tumbuh 18 tahun seperti orang yang buta, dituntun sepanjang hidup, hingga saat penuntun itu tiada, aku melawan arah, aku tertabrak sana sini, aku tidak berada di jalan yang benar, ya karena ternyata aku buta. Dewasa hanya ada pada angka, pada rupa, tapi tidak pada hati dan pikiranku. Setiap orang akan mengalami masa terburuknya, tahun terburuknya. Dan mungkin saat itu t...

Tidak Sempat

      Ternyata tahun ini aku belum sama sekali menulis di blog ini. Wah sudah benar-benar usang. Tapi kali ini aku bukan ingin meneruskan cerita tentang si Fero dan Lexa. Fyi, sesulit itu ternyata menulis yang melibatkan perasaan. Setiap melanjutkan kisah Fero dan Lexa, aku perlu menggali lagi potongan kenangan yang sudah tertimbun jauh di dalam pun perlu menyusun potongan-potongan tersebut agar menjadi utuh.     Ya.. kali ini aku tidak mau membahas mereka atau kisah nyata di balik mereka. Kali ini aku ingin bercerita tentang seseorang. Kembali lagi seperti fungsi awal blog ku ini, tempat bercerita dan menyampaikan sesuatu kepada seseorang. Orang ini belum pernah sekalipun ku bahas dalam blog ini. Ya.. dia orang baru di blog ini. Tapi tidak baru di hidupku. Bukan juga orang yang pernah jadi sesuatu yang lebih.     Hanya saja.. aku pernah mengaguminya, mungkin masih, atau mungkin pun tidak. Hanya saja.. aku merasa terlalu jauh kalau mengharapkan bisa be...

7. Hari Ini, Lexa Baru Sadar

           Seperti biasa, berjalan-jalan di atas motor sepulang sekolah.. lebih sering sepulang Lexa atau mereka rapat. Tapi waktu itu mereka punya bonus waktu cukup banyak, Fero gak latihan band, Lexa gak rapat ataupun nari. Mereka   punya waktu yang banyak untuk menghabiskan waktu hingga matahari berganti dengan bulan dan kembali ke rumah masing-masing.             Hari itu mereka sungguh bahagia, mungkin Fero sudah merasakan kebahagiaan ini sejak lama namun tidak dengan Lexa. Entah kenapa Lexa begitu bahagia hari ini beda dari hari-hari sebelumnya. Ada sebuah perasaan yang begitu menusuk ke dalam hatinya. Tidak, bukan perasaan yang menyakitkan namun perasaan yang begitu indah. Hari itu Lexa berdebar, sangat berdebar. Padahal tidak ada yang special, bukan hari jadi mereka, tidak pula Fero memberikan sesuatu kepada Lexa atau mereka ke suatu tempat, tidak.      ...

6. Maaf Adalah Sebuah Kunci

Semua berjalan semestinya, menurut Lexa, tapi tidak menurut Fero. Lexa benar-benar mementingkan organisasi-organisasi nya, ya atas nama professional. Namun Fero sabar, tidak jarang dia menunggu Lexa di sekolah, menunggu Lexa selesai rapat atau latihan. Bukan hitungan menit tapi hitungan jam, bisa dari siang hingga sore, atau kalua masih dibilang sore karena sering pula selesai saat hari mulai gelap.             Seperti itu mereka selama Lexa belum menaruh hati kepada Fero. Banyak hal yang tidak diminta Lexa, namun diberikan oleh Fero. Banyak hal kecil yang dilakkan Fero membuat Lexa tanpa sadar bukan hanya sedang proses menaruh hati kepada Fero, melainkan Lexa sedang menggali untuk menyimpan hatinya dalam-dalam kepada Fero. *             Hari ini Lexa sibuk, untuk yang entah keberapa juta kali Lexa sibuk, dan Fero sabar. Hari ini Lexa mendampingi anggota ekskulnya yang ...

5. Bulan-bulan Tersulit Bagi Fero

Hari demi hari Lexa dan Fero semakin lengket, semakin mebuat banyak orang “gemas” dengan mereka. Fero yang sangat perhatian terhadap Lexa adalah salah satu hal yang membuat banyak orang gemas dengan mereka, begitu pula Lexa yang gemas bercampur semakin jatuh hati pada Fero.             Bulan-bulan pertama hubungan mereka ternyata Lexa menyimpan sesuatu, sesuatu yang entah bisa dirasakan Fero atau tidak. Lexa belum jatuh hati pada Fero. Lexa belum merasa memiliki perasaan sayang kepada Fero hingga bulan keempat mereka manjalani hubungan. Dan empat bulan pertama yang biasa bagi Lexa mungkin adalah bulan-bulan tersulit bagi Fero.                                                   ...

4. Ngedate Pertama

Nge- date Pertama             Suatu hari Fero memberikan kejutan kecil kepada Lexa, ‘kejutan kecil’ hal yang membuat Lexa—seseorang yang cukup sederhana untuk ukuran perempuan—bahagia. Fero memberikan dua tiket menonton pertunjukan teater sekolahnya yang sedang mengikuti sebuah perlombaan besar. Nge- date pertama mereka, bisa dibilang begitu. Selama Fero mendekati Lexa, ya mereka hanya menghabiskan waktu pulang dan berngakat bareng. Weekend pun tidak bertemu, hari untuk keluarga, begitu bagi Fero. Laki-laki ini, bisa dibilang jatuh hati duluan kepada Lexa, selalu memprioritaskan Lexa, tapi tidak diatas keluarganya, tidak diatas kakaknya yang walau mereka sering berbeda pendapat,bukannya wajar persaudaraan seperti itu?. Apalagi orang tuanya, bukan sekedar cinta, namun Fero juga sangat menghormati kedua orang tuanya, bahkan bisa dibilang mengidolakan.             Hari itu t...

3. Senyum Harap

          Tepat setelah dua hari ulang tahun Lexa, Fero menyatakan niatnya lagi. Lexa tidak terlalu menebak memang kapan tepatnya Fero akan menyatakan niatnya lagi, namun ia tau cepat atau lambat Fero akan mengatakan itu lagi dan Lexa sudah menyiapkan jawaban untuk hari itu. Tidak, Lexa tidak menjawab ‘iya’. Dia mengajak Fero bicara panjang. “Gini loh Fer. Ya.. lo udah tau lah semuanya, gue pun udah pernah cerita. Udah dua kali gue ditinggal gitu aja, tiba-tiba. Berturut-turut pula selama satu tahun belakangan ini. Jujur gue udah capek banget sebenernya. Gue ya bisa dibilang trauma juga. Yang terakhir kemarinpun, yang gue liat dia itu orang yang baik banget, walaupun gue ga jadian sama dia, tapi perlakuan-perlakuan dan kata-katanya udah buat gue milih dia, tapi nyatanya.. gue tetep ditinggal. Orang yang gak gue duga itu aja bisa ninggal gitu aja. Gue bukannya ga percaya sama lo, gue Cuma takut. Dan ya yang kayak lo tau lah, gue tuh orangnya tempramen bang...