Menulis
Banyak orang bilang, aku menjadi penulis saja, setelah mereka membaca tulisan-tulisanku di blog ini. Memang aku senang betul menulis, namun apalah daya kalau aku menulis hanya bermodal kan kejujuran. Aku menulis hanya bermodalkan apa yang aku rasaan. Hanya mengeluarkan isi hati yang ingin dikeluarkan, dengan cara ini, media ini, menulis.
Entah harus mulai darimana kalau harus menulis, membuat sebuah karangan, menyusunnya menjadi sebuah cerita, lalu membuat orang-orang yang membacanya terhibur atau bahkan terinspirasi. Atau mungkin aku tak perlu mengarang, karena aku tahu, dan orang-orang disekitarku pun tahu bahwa kisahku sejauh ini cukup untuk dijadikan lembar demi lembar yang akan membuat orang tertarik saat membacanya. Namun apalah daya jika aku sendiri saja tidak tahu harus mulai darimana. Atau harus bagaimana melanjutkannya jika sudah dimulai.
Menceritakan sebuah kisah nyata adalah tugas yang berat bagi si penulis. Dimana dia harus bertengkar terlebih dahulu dengan hati dan pikirannya. Dimana dia harus menguras banyak tenaga untuk kembali lagi ke masa silam yang mungkin adalah masa yang tak ingin dia ingat kembali apalagi dituangkan dalam kata-kata.
Namun menulis kisah nyata tentang diri sendiri adalah terapi khusus bagi seseorang yang cinta menulis. Dimana batinnya akan jauh lebih tenang saat dia menceritkan semuanya hanya kepada deretan kata-kata yang ada di depannya. Diam memang. Sunyi pula. Namun sejuk dan damai. Hanya bercerita. Itulah yang dibutuhkan seseorang saat beban sudah melebihi kapasitas di kepalanya. Tanpa harus ada yang membantah , tanpa butuh hiburan kosong yang tak mengerti apa-apa. Membiarkan lembaran kertas lebih dari seorang manusia, lebih dari seorang sahabat, lebih dari diri sendiri.
Itulah kenapa tulisan yang diangkat dari kisah nyata kadang kala memiliki tempat di hati para pembaca. Sebab bukan hanya kalimat demi kalimat yang harus penulis susun, melainkan juga kenangan-kenangan yang sudah ditutup rapat-rapat yang juga harus dibongkar dan disusun kembali.
Entah harus mulai darimana kalau harus menulis, membuat sebuah karangan, menyusunnya menjadi sebuah cerita, lalu membuat orang-orang yang membacanya terhibur atau bahkan terinspirasi. Atau mungkin aku tak perlu mengarang, karena aku tahu, dan orang-orang disekitarku pun tahu bahwa kisahku sejauh ini cukup untuk dijadikan lembar demi lembar yang akan membuat orang tertarik saat membacanya. Namun apalah daya jika aku sendiri saja tidak tahu harus mulai darimana. Atau harus bagaimana melanjutkannya jika sudah dimulai.
Menceritakan sebuah kisah nyata adalah tugas yang berat bagi si penulis. Dimana dia harus bertengkar terlebih dahulu dengan hati dan pikirannya. Dimana dia harus menguras banyak tenaga untuk kembali lagi ke masa silam yang mungkin adalah masa yang tak ingin dia ingat kembali apalagi dituangkan dalam kata-kata.
Namun menulis kisah nyata tentang diri sendiri adalah terapi khusus bagi seseorang yang cinta menulis. Dimana batinnya akan jauh lebih tenang saat dia menceritkan semuanya hanya kepada deretan kata-kata yang ada di depannya. Diam memang. Sunyi pula. Namun sejuk dan damai. Hanya bercerita. Itulah yang dibutuhkan seseorang saat beban sudah melebihi kapasitas di kepalanya. Tanpa harus ada yang membantah , tanpa butuh hiburan kosong yang tak mengerti apa-apa. Membiarkan lembaran kertas lebih dari seorang manusia, lebih dari seorang sahabat, lebih dari diri sendiri.
Itulah kenapa tulisan yang diangkat dari kisah nyata kadang kala memiliki tempat di hati para pembaca. Sebab bukan hanya kalimat demi kalimat yang harus penulis susun, melainkan juga kenangan-kenangan yang sudah ditutup rapat-rapat yang juga harus dibongkar dan disusun kembali.
Komentar
Posting Komentar