Tidak Sekuat Yang Ku Duga
Tidak.. aku tidak sekuat yang aku duga ternyata
Tapi kadang aku kuat. Aku Cuma gak bisa liat kalian tapi aku selalu tak mau mundur. Kalo kamu mau tau, kadang aku ngerasa seneng saat aku kuattt banget ngadepinnya tapi kadang aku rapuh serapuh-rapuhnya, mau nangis sekaligus teriak merasakan kehancuran ini.
Tidak.. kamu tidak sejahat itu. Cuma itu yang aku yakini selain soal kamu masih sayang aku.
Tidak.. kamu yang aku tau tidak bisa berubah seketika dalam satu hari. Aku masih percaya, kamu tidak meninggalkanku. Oh.. lebih tepatnya hatimu tidak meninggalkan hatiku. Aku masih percaya kamu bukan seorang laki-laki yang tak perduli akan janjimu. Masih ingat? Hari sabtunya kita jalan-jalan.. saat pulang sebelum sampai rumahku kata terakhir yang aku keluarkan “(menyebut namamu)… jangan tinggalin aku ya” terus kamu diem, terus aku bilang, “ko diem sii?” , terus kamu jawab “terus menurut kamu aku bakal jawab ‘engga, aku bakal ninggalin kamu’ gitu?” , terus aku bilang “yaa kali aja”, terus kamu bilang “aku gak ninggalin kamu, sayang”. Itu terakhirnya kita jalan-jalan, seneeeng banget akhirnya kita jadi ke sana walau ngedadak banget setelah kita selalu sibuk. Kalimat terakhir saat terakhir aku masih duduk di belakangmu, di jok motor matic mu itu. Masih sangat membekas, masih sangat terngiang nada bicaramu saat itu. Selalu datang saat aku hancur dan ingin mundur.
Hhh.. aku selalu ingin bicara langsung sama kamu, gak Cuma lewat chat. Sangaaat ingin. Tapi apa daya aku takut. Bukan.. bukan takut harga diri ku turun. Aku takut banget kamu semarah di chat. Aku selalu takut saat kamu marah, aku takut gak kuat dijutekin kamu. Dan aku yakin aku gak sanggup bicara apapun saat sudah sampai di depan wajahmu. Maaf aku gak bisa seusaha kamu yang selalu nyamperin aku dalam keadaan apapun. Maaf aku belum mampu setor wajah di depanmu. Takut.. sangat takut sama ekspresimu yang jutek apalagi marah. Sangat takut jika nada bicaramu akan meninggi. Aku takut malah Cuma bisa nangis depanmu tanpa bisa berkata apa-apa. Dan kamu gak pernah suka liat aku nangis, jadi aku gak bisa maju ke depanmu. Oh ya.. kamu juga sempat bilang “aku gak mau ketemu kamu tan. Sakit ati kalo liat kamu”. Aku takut bikin kamu sakit hati. Dan kangen ini Cuma bisa terobati setengah deh, dari kejauhan, walau harus sambil tahan sakit karna aku gak mampu jadi wanita yang berada di sampingmu lagi. Setidaknya kangennya terobati dengan sedikit melihatmu.
Aku kangen liat kamu dari deket. Kangeeen banget. Eeh.. jangan salah. Aku bukan kangen kamu yang gak keliatan-keliatan lagi. Kangen seperti ini itu kangen kelas berat. Lebih baik hatimu tetap di sini dan ragamu entah dimana, daripada seperti sekarang, kangen karna raganya dekat tapi terasa sangat amat jauh dan tak bisa ku lihat. Aku Cuma bisa bilang di sini, gak bisa apa-apa, gak punya kekuatan apa-apa. Cuma bisa liat kamu dari kejauhan. Kalau ditanya sakit ya sakit. Kalau ditanya kuat, sudah nol angka kekuatanku. Kalau ditanya masih bertahan? Aku gak tau. Gak pernah bisa mengatur diri untuk maju atau mundur. Aku menyerahkan semua pada keadaan dan hati. Terserah mereka, aku ikut. Terserah keadaan kamu buat seperti apa dan terserah hati akan sekuat apa. Aku pasrah.. aku lelah seperti ini lagi. Aku ditinggal untuk ketiga kalinya selama tiga tahun terakhir ini. Selalu setiap pertengahan tahun. Gak tau.. gak tau kenapa begini. Apa setiap tahun akan begini. Gak tau.. aku gak ngerti.
Aku hancur. Bukan.. bukan hancur diginiin kamu. Hancur karna seperti ini lagi. Hilang tiba-tiba. Hilang secara mendadak. Tanpa aku bisa memperbaiki dulu semuanya. Tanpa diberi kesempatan bicara lagi. Langsung ditinggal tanpa toleransi. Aku sendiriii… aku sangat sendiri sekarang. Aku gak mau cari yang menemaniku, tapi aku takut ada yang datang. Aku takut ada yang membantuku bangkit, tapi aku takut kejadiannya akan sama lagi, akan ditinggal lagi. Dan aku takut kalo dengan yang lain hanya akan kujadikan pelampiasan.
Sayaaang… gak akan ada yang bisa menyayangiku seindah kamu, sayang, enggak. Aku wanita biasa. Aku terlalu beruntung didatangi olehmu. Mungkin sudah saatnya aku kehilangan keberuntunganku. Tapi kenapa tiba-tiba lagi? Kenapa menyisakan luka sedalam ini? Kenapa jauuuh jauuuuh lebih dalam dari sebelum-sebelumnya? Apa yang salah denganku? Apa? Aku selalu mau belajar dan berubah.. selalu berusaha sekuat tenaga melakukan yang terbaik. Demi tuhan aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kita. Tapi aku lemah.. sayang. Aku lemah, lagi-lagi aku memang wanita biasa yang terlalu super beruntung hidupnya dihadiri oleh laki-laki sepertimu, aku takut kehilangan kamu, keajaibanku. Caraku salah.. ya aku terlalu kuat menggenggammu. Tapi inikah alas an satu-satunya kamu secepat ini beranjak, hai ajaib? Aku yakin bukan Cuma ini alasannya.
Kalo kamu pikir lebih baik aku hancur sekarang.. sebentar.. daripada terus denganmu tapi akan terus sakit hati, berarti kamu tidak pernah percaya denganku. Kamu belum cukup waktu untuk mengenalku. Kalau begitu kamu.. juga hanya dengan persepsimu. Aku sudah pernah bilang, kehilangan kamu itu sangat hancur. Lebih hancur dari sebesar apapun ujian bersama kamu nanti. Kalo kamu pikir selama ini kamu udah terlalu sering nyusahin aku, dan kamu gak mau lanjut karna gak mau berlanjut nyusahin aku, kamu nol besar.. cinta. Ninggalin aku, apalagi dengan cara langsung membanting pintunya rapat-rapat, inilah pertama kalinya kamu nyusahin aku. Udah lima malem lima hari aku susah makan susah tidur susah mikir susah focus susah melangkah susah tersenyum apalagi tertawa susah kemana-mana.. aku kehilangan arah, sayang. Aku lumpuh.. benar-benar lumpuh. Pekattt… hitam pekat sekarang hidupku. Saking pekatnya bahkan terlihat seperti hanya sebuah lubang, tak ada isinya.
Kamu tidak berhasil buat aku pergi menuju kebahagiaan yang akan aku peroleh bukan sama kamu, seperti yang kamu pikirkan itu. Tapi kamu berhasil… melumpuhkan seseorang yang sekitar sebelas bulan lalu kamu hampiri.
Kalo kamu pikir Cuma akan buat aku susah jika ragamu meninggalkanku tapi hatimu masih di sini, kamu tau maksud kata “sayang” ku? yang bicara sayang itu hati, bukan ragaku. Bullshit memang kalo aku bilang gakpapa ga ada ragamu, tapi hancur aku kalo yang di “gapapa” in itu ketika gak ada hatimu juga. Dan sekarang.. aku harus menahan perih.. raganya di sini, tapi hatinya sudah dipaksa pergi dari sini. Supaya saat raganya pun pergi, hati ini tak akan susah lagi, begitu? Cintaaa.. Raga jauh.. masih bisa ditarik oleh hati. Tapi kalo hati sudah jauh? Hati jalan sendiri, sayang. Tak perduli raganya dimana, dia menemukan sendiri dengan caranya. Raga tak akan mampu menarik hati.
Jangan.. aku mohon jangan paksa Tarik hatimu dari sini. Aku mohon. Biarkan dia tetap tinggal. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar tak melukainya lagi, agar bisa menjaganya. Aku memohon. Aku yang tidak berdaya ini memohon sangat memohon. Tolong akuuu, ajaib. Tolong akuuu.
Jangan.. jangan semua alasan itu membuat kamu menarik paksa hatimu. Jujurlah sayang. Bukan.. bukan jujur sama aku. jujurlah pada diri sendiri. Itu satu-satunya hal yang membuat kamu lega. Jangan sampai kamu dibohongi terus oleh pemikiranmu itu.
Cuma ini yang bisa aku lakukan.. bukan lakukan. Tapi ungkapkan. Cuma lewat sini aku mengungkapkan semuanya. Sampai kapan aku tak tau. Tapi aku sealu lega setelah menulis. Tak tau akan ditengok olehmu atau tidak. Tak tau berpengaruh apa untukmu. Tapi inilah temanku sekarang satu-satunya. Semoga kamu membaca, hai keajaiban yang dikirim tuhan.
I love you so much, ajaib. And I still missing you.
Tapi kadang aku kuat. Aku Cuma gak bisa liat kalian tapi aku selalu tak mau mundur. Kalo kamu mau tau, kadang aku ngerasa seneng saat aku kuattt banget ngadepinnya tapi kadang aku rapuh serapuh-rapuhnya, mau nangis sekaligus teriak merasakan kehancuran ini.
Tidak.. kamu tidak sejahat itu. Cuma itu yang aku yakini selain soal kamu masih sayang aku.
Tidak.. kamu yang aku tau tidak bisa berubah seketika dalam satu hari. Aku masih percaya, kamu tidak meninggalkanku. Oh.. lebih tepatnya hatimu tidak meninggalkan hatiku. Aku masih percaya kamu bukan seorang laki-laki yang tak perduli akan janjimu. Masih ingat? Hari sabtunya kita jalan-jalan.. saat pulang sebelum sampai rumahku kata terakhir yang aku keluarkan “(menyebut namamu)… jangan tinggalin aku ya” terus kamu diem, terus aku bilang, “ko diem sii?” , terus kamu jawab “terus menurut kamu aku bakal jawab ‘engga, aku bakal ninggalin kamu’ gitu?” , terus aku bilang “yaa kali aja”, terus kamu bilang “aku gak ninggalin kamu, sayang”. Itu terakhirnya kita jalan-jalan, seneeeng banget akhirnya kita jadi ke sana walau ngedadak banget setelah kita selalu sibuk. Kalimat terakhir saat terakhir aku masih duduk di belakangmu, di jok motor matic mu itu. Masih sangat membekas, masih sangat terngiang nada bicaramu saat itu. Selalu datang saat aku hancur dan ingin mundur.
Hhh.. aku selalu ingin bicara langsung sama kamu, gak Cuma lewat chat. Sangaaat ingin. Tapi apa daya aku takut. Bukan.. bukan takut harga diri ku turun. Aku takut banget kamu semarah di chat. Aku selalu takut saat kamu marah, aku takut gak kuat dijutekin kamu. Dan aku yakin aku gak sanggup bicara apapun saat sudah sampai di depan wajahmu. Maaf aku gak bisa seusaha kamu yang selalu nyamperin aku dalam keadaan apapun. Maaf aku belum mampu setor wajah di depanmu. Takut.. sangat takut sama ekspresimu yang jutek apalagi marah. Sangat takut jika nada bicaramu akan meninggi. Aku takut malah Cuma bisa nangis depanmu tanpa bisa berkata apa-apa. Dan kamu gak pernah suka liat aku nangis, jadi aku gak bisa maju ke depanmu. Oh ya.. kamu juga sempat bilang “aku gak mau ketemu kamu tan. Sakit ati kalo liat kamu”. Aku takut bikin kamu sakit hati. Dan kangen ini Cuma bisa terobati setengah deh, dari kejauhan, walau harus sambil tahan sakit karna aku gak mampu jadi wanita yang berada di sampingmu lagi. Setidaknya kangennya terobati dengan sedikit melihatmu.
Aku kangen liat kamu dari deket. Kangeeen banget. Eeh.. jangan salah. Aku bukan kangen kamu yang gak keliatan-keliatan lagi. Kangen seperti ini itu kangen kelas berat. Lebih baik hatimu tetap di sini dan ragamu entah dimana, daripada seperti sekarang, kangen karna raganya dekat tapi terasa sangat amat jauh dan tak bisa ku lihat. Aku Cuma bisa bilang di sini, gak bisa apa-apa, gak punya kekuatan apa-apa. Cuma bisa liat kamu dari kejauhan. Kalau ditanya sakit ya sakit. Kalau ditanya kuat, sudah nol angka kekuatanku. Kalau ditanya masih bertahan? Aku gak tau. Gak pernah bisa mengatur diri untuk maju atau mundur. Aku menyerahkan semua pada keadaan dan hati. Terserah mereka, aku ikut. Terserah keadaan kamu buat seperti apa dan terserah hati akan sekuat apa. Aku pasrah.. aku lelah seperti ini lagi. Aku ditinggal untuk ketiga kalinya selama tiga tahun terakhir ini. Selalu setiap pertengahan tahun. Gak tau.. gak tau kenapa begini. Apa setiap tahun akan begini. Gak tau.. aku gak ngerti.
Aku hancur. Bukan.. bukan hancur diginiin kamu. Hancur karna seperti ini lagi. Hilang tiba-tiba. Hilang secara mendadak. Tanpa aku bisa memperbaiki dulu semuanya. Tanpa diberi kesempatan bicara lagi. Langsung ditinggal tanpa toleransi. Aku sendiriii… aku sangat sendiri sekarang. Aku gak mau cari yang menemaniku, tapi aku takut ada yang datang. Aku takut ada yang membantuku bangkit, tapi aku takut kejadiannya akan sama lagi, akan ditinggal lagi. Dan aku takut kalo dengan yang lain hanya akan kujadikan pelampiasan.
Sayaaang… gak akan ada yang bisa menyayangiku seindah kamu, sayang, enggak. Aku wanita biasa. Aku terlalu beruntung didatangi olehmu. Mungkin sudah saatnya aku kehilangan keberuntunganku. Tapi kenapa tiba-tiba lagi? Kenapa menyisakan luka sedalam ini? Kenapa jauuuh jauuuuh lebih dalam dari sebelum-sebelumnya? Apa yang salah denganku? Apa? Aku selalu mau belajar dan berubah.. selalu berusaha sekuat tenaga melakukan yang terbaik. Demi tuhan aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kita. Tapi aku lemah.. sayang. Aku lemah, lagi-lagi aku memang wanita biasa yang terlalu super beruntung hidupnya dihadiri oleh laki-laki sepertimu, aku takut kehilangan kamu, keajaibanku. Caraku salah.. ya aku terlalu kuat menggenggammu. Tapi inikah alas an satu-satunya kamu secepat ini beranjak, hai ajaib? Aku yakin bukan Cuma ini alasannya.
Kalo kamu pikir lebih baik aku hancur sekarang.. sebentar.. daripada terus denganmu tapi akan terus sakit hati, berarti kamu tidak pernah percaya denganku. Kamu belum cukup waktu untuk mengenalku. Kalau begitu kamu.. juga hanya dengan persepsimu. Aku sudah pernah bilang, kehilangan kamu itu sangat hancur. Lebih hancur dari sebesar apapun ujian bersama kamu nanti. Kalo kamu pikir selama ini kamu udah terlalu sering nyusahin aku, dan kamu gak mau lanjut karna gak mau berlanjut nyusahin aku, kamu nol besar.. cinta. Ninggalin aku, apalagi dengan cara langsung membanting pintunya rapat-rapat, inilah pertama kalinya kamu nyusahin aku. Udah lima malem lima hari aku susah makan susah tidur susah mikir susah focus susah melangkah susah tersenyum apalagi tertawa susah kemana-mana.. aku kehilangan arah, sayang. Aku lumpuh.. benar-benar lumpuh. Pekattt… hitam pekat sekarang hidupku. Saking pekatnya bahkan terlihat seperti hanya sebuah lubang, tak ada isinya.
Kamu tidak berhasil buat aku pergi menuju kebahagiaan yang akan aku peroleh bukan sama kamu, seperti yang kamu pikirkan itu. Tapi kamu berhasil… melumpuhkan seseorang yang sekitar sebelas bulan lalu kamu hampiri.
Kalo kamu pikir Cuma akan buat aku susah jika ragamu meninggalkanku tapi hatimu masih di sini, kamu tau maksud kata “sayang” ku? yang bicara sayang itu hati, bukan ragaku. Bullshit memang kalo aku bilang gakpapa ga ada ragamu, tapi hancur aku kalo yang di “gapapa” in itu ketika gak ada hatimu juga. Dan sekarang.. aku harus menahan perih.. raganya di sini, tapi hatinya sudah dipaksa pergi dari sini. Supaya saat raganya pun pergi, hati ini tak akan susah lagi, begitu? Cintaaa.. Raga jauh.. masih bisa ditarik oleh hati. Tapi kalo hati sudah jauh? Hati jalan sendiri, sayang. Tak perduli raganya dimana, dia menemukan sendiri dengan caranya. Raga tak akan mampu menarik hati.
Jangan.. aku mohon jangan paksa Tarik hatimu dari sini. Aku mohon. Biarkan dia tetap tinggal. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar tak melukainya lagi, agar bisa menjaganya. Aku memohon. Aku yang tidak berdaya ini memohon sangat memohon. Tolong akuuu, ajaib. Tolong akuuu.
Jangan.. jangan semua alasan itu membuat kamu menarik paksa hatimu. Jujurlah sayang. Bukan.. bukan jujur sama aku. jujurlah pada diri sendiri. Itu satu-satunya hal yang membuat kamu lega. Jangan sampai kamu dibohongi terus oleh pemikiranmu itu.
Cuma ini yang bisa aku lakukan.. bukan lakukan. Tapi ungkapkan. Cuma lewat sini aku mengungkapkan semuanya. Sampai kapan aku tak tau. Tapi aku sealu lega setelah menulis. Tak tau akan ditengok olehmu atau tidak. Tak tau berpengaruh apa untukmu. Tapi inilah temanku sekarang satu-satunya. Semoga kamu membaca, hai keajaiban yang dikirim tuhan.
I love you so much, ajaib. And I still missing you.
Ditulis: Selasa, 26 Mei 2015
Komentar
Posting Komentar