Tiga setengah bulan sudah ya borneo

Selamat pagi dari pulau borneo. Pagi ini.. sejuk, oh tidak, lebih tepatnya dingin. Hujan pagi ini. Deras tadi waktu lebih pagi. Sekarang sudah gerimis. Rintik-rintik yang tetap membuat begitu dinginnya borneo bagian batas negeri ini. Beberapa meter ke sana, dari tempat saya duduk, sudah negara orang. Negeri jiran katanya. Sudah tanah orang. Beda aturan, beda segalanya. Beberapa kilometer sekitar, entahlah berisi apa. Orang utan? Babi hutan? Atau bahkan anaconda yang ada di film itu, film anaconda yg dibuat di pulau ini. Apa pulau ini hanya sebagai tempat yang cukup mendukung untuk membuat film tentang ular besar seperti itu, atau memang di sini ada bahkan banyak. Tengok kanan hijau, tengok kiri hijau, belakang dan depan pun hijau. Yah hutan. Di sini juga ada bukit, yang kalau hujan seperti ini biasanya hilang, atau mendung saja akan hilang. Lalu saat cerah muncul lagi. Sulap? Sihir? Iya disulap dan disihir oleh Sang Pencipta. Bukitnya tertutup awan maksud saya, makanya hilang. Nanti sore, kalau tidak mendung juga cuaca mendukung, biasanya ada cahaya-cahaya yang menyelinap dari balik bukit, senja, selalu berbeda rupanya juga selalu indah. Sering kecewa kalau mendung padahal lagi lelah mau lihat senja. Apa pengaruh lelah dengan senja? Ada.. Senja di sini bisa menghilangkan rasa lelah loh. Tak tahu, pulang kerja dengan rasa lelah juga rindu rumah lalu tengok bukit dan senja sore itu indah, seketika hilang si lelah dan si rindu rumah. Malah gak jadi langsung pulang, berhenti dulu, ambil gambar, lalu nikmati. Biasanya sambil bersenda gurau dengan rekan kerja. Sendagurau campur senja, jadi bersenjagurau deh kayak lagunya senar senja. Toh buru-buru pulang buat apa? Tak ada yang menunggu di rumah. Iya.. rumahnya pun di belakang kantor bareng rekan-rekan kerja juga.
Eh tadi ada bilang rindu? Gitulah saya mulai rindu, kemarin-kemarin sih. Rindu suasana kota di rumah saya sana. Rindu kuliner-kuliner sana. Rindu berwisata kuliner. Rindu mau makan apa aja tinggal berangkat beli, atau bahkan pesan lewat telepon genggam, tunggu, ada yang datang deh depan rumah. Maksudnya go-food, bukan seseorang yang peka terus dateng beliin makanan. Hebat ya memang makanan itu. Saya ga rindu tibatiba rindu karena mau makan ini mau makan itu terus jadi menjalar deh rindunya jadi rindu orang-orang rumah. Tapi pagi ini, ditemani hujan juga kedamaian yang ada. Tidak, saya tidak makin rindu. Yang kata orang hujan membawa rindu, disini hujan justru menyadarkan saya. Di kota saya sana, saya tidak akan mendapatkan seperti hujan pagi ini. Ditambah lagi ada yang menyalakan musik, musik-musik yang slow gitu, jadi cakung deh cuaca mendukung. Mendukung jadi serasa begitu tenang. Begitu damai. Juga oksigen yang berlimpah, sudah lama rasanya saya gak bilang 'rebutan oksigen' mungkin malah tidak pernah di sini.
Banyak alasan untuk kita selalu bersyukur bukan? Pagi ini.. pagi yang seharusnya membuat saya makin rindu rumah yang saya bisa bangun kapan saja, bisa bertemu siapa saja, dan bisa makan apa saja. Pagi ini.. saya harus berangkat kurang dari pukul lima pagi, hujan pula, dingin pula, rindu pula. Tapi saat sudah duduk di sini, menatap, merenung, menikmati hujan, dingin, pemandangan hijau-hijau, membuat saya tenang.. ingat sudah lama saya cari suasana ini.. dan akhirnya saya menemukan kembali alasan bersyukur yang lupa saya taruh dimana selama beberapa hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PULANG

Tidak Sempat

Warna Berbeda Yang Sudah Menghilang