1. Seorang Malaikat Hadir
Siang ini cukup panas. Rumah-rumah
tampak sepi penghuni. Tentu saja kaerena para penghuni sedang menari-nari
dengan kegiatan mereka di luar sana. Ada juga yang di dalam rumah, tapi pasti
mereka sedang terlelap. Dipertengahan bulan puasa seperti ini, tidur adalah
pilihan paling utama bagi orang-orang yang tidak memiliki kewajiban di luar
sana. Dan hal yang cukup melelahkan bagi mereka yang sedang menjalankan
kewajibannya.
Lexa merasa beruntung karena sudah
libur sekolah, jadi dia tidak perlu menahan teriknya matahari di ruang kelas
dengan dongeng-dongeng yang disampaikan oleh guru yang seringkali membawanya ke
alam mimpi.
Tapi saat
di rumah seperti ini justru Lexa tidak ingin ke alam mimpi, tidak bisa, lebih
tepatnya. Kehilangan sekitar dua bulan lalu memberi guncangan yang cukup hebat
untuk hidup Lexa. Sekarang dia hanya memandang langit-langit kamar sambil
menengok kembali goresan luka dan membuka segala hal indah beberapa bulan lalu.
Lexa tenggelam dalam lamunan, merasa sedang kembali pada masa-masa indah saat
seorang malaikat hadir setiap hari di hidupnya dan sekarang sudah berlari
kencang sebisa mungkin menjauhinya.
Hari demi
hari, jam demi jam, bahkan menit sampai detik bersama malaikat itu dibuka-buka
kembali oleh Lexa. Yaa mereka memang tidak pernah memiliki hubungan khusus.
Mereka sekedar dua orang yang baru berkenalan lalu langsung merasa sangat
nyaman. Tak pernah ada kata sayang terucap apalagi cinta. Tapi khawatir dan
peduli yang berlebih selalu saling mereka lakukan. Lexa tersenyum-senyum
sendiri ingat pernah ada seorang laki-laki yang begitu mengkhawatirkannya.
Laki-laki yang selalu memberi kejutan tak benda untuk Lexa.
ZEEET!
ZEEET!
Lexa disadarkan oleh getaran
handphonenya yang sedaritadi ia genggam. Siapasih
siang-siang begini ngechat, ngagetin aja. Gumam Lexa dalam hati. Dia segera
membuka lock handphonenya, ternyata chat Line. Disentuhlah icon bertuliskan
Line itu. Lexa sudah menduga, pasti Fero.
Cowok ini
sudah beberapa minggu belakangan chatting dengan Lexa. Bermula dari BBM dan
berlanjut ke Line. Lexa masih wanti-wanti apa tujuan cowok yang hanya ia kenal
dari kepanitiaan pensi yang sudah terlaksana sekitar tiga bulan lalu. Ah
lagi-lagi organisasi itu. Organisai itulah yang mempertemukan Lexa dengan si
malaikat. Dan dia sudah menutup rapat-rapat semua hal tentang organisasi itu.
Lexa
langsung membalas chat basa-basi Fero. Dia tak terlalu mengindahkan chat Fero
karna dia yakin cowok ini Cuma iseng ngechat dia. Bagi Lexa, Fero terlihat sok
keren dan angkuh walau pada kenyataannya Fero memang keren. Alasan sebenarnya
kenapa Lexa tak terlalu mengindahkan Fero karena menurutnya Fero terlalu keren
dan famous untuk mendekati seorang gadis biasa sepertinya, jadi Lexa malas jika
nanti kebawa serius.
Lexa
kembali lagi dalam lamunannya. Begitu indah namun kenyatannya sakit. Ia tetap
melamun sambil membalas chat Fero dengan ramah. Tak ada niat untuknya
memejamkan mata, dia masih larut dalam hal-hal indah selama beberapa bulan itu.
Langit-langit kamarnya seakan berubah menjadi layar kaca besar yang sedang
memutar film documenter Lexa dengan malaikat itu.
*
……………………
Me:
gue gak ngerti deh Vit, ni cowok
gak jelas banget ngechatin gua mulu. Segala ngajak jalan lagi.
Vita:
Dia naksir kali sama lo, gas aja
wkwk.
Me:
Yakali deh.. gak mungkin lah. Udah
liat aja nanti, paling dia Cuma iseng aja. Ini juga ngajak jalan Cuma begitu
doang. Udah ah gua gak mau nanggepin serius.
Vita:
Iya udah lu ladenin aja tapi
jangan serius-serius amat. Kali-kali aja jadi.
Seminggu lagi bulan puasa akan
berakhir dan sekolah pun akan segera masuk. Lexa sudah mulai mampu menghapus
sedikit demi sedikit tentang si malaikat. Tapi belum berganti juga pada nama lain.
Namun ada yang mulai mengisi fikiran pada otak Lexa, Fero. Dia mulai ngajak
Lexa jalan tapi memang mereka belum ada waktu luang.
apa iya iseng ngechat sampe ngajak jalan?
Aneh. Gumam Lexa heran. Dia masih percaya Fero hanya iseng sebelum nanti Fero
dan dia benar-benar jalan bareng. Vita adalah sahabat terdekat Lexa sejak
kecil, dia selalu menjadi orang pertama yang tahu cerita baru dari Lexa. Dan
sekarang Vita satu-satunya sahabat Lexa yang tau soal Fero selalu chatting
dengannya. Karena selama ini Lexa selalu berfikir Fero hanya iseng dan tak
perlu masuk dalam ceritanya.
*
Sana sini
sibuk. Semua isi rumah umat muslim sedang rapih-rapih dan juga gak ketinggalan
tercium aroma khas masakan lebaran seperti ketupat, semur daging, dan lainnya
karena dua hari lagi umat muslim akan merayakan
hari lebaran.
Jam masih menunjukan angka satu namun Lexa
sudah kehabisan tenaga hari ini. Dia baru selesai merapikan kamarnya. Mengganti
sprei kasur menjadi warna pink kembang-kembang, tirai menjadi warna pink polos,
dan menyiapkan baju lebaran yang serba pink. Juga bersih-bersih dan merapikan
seluruh bagian kamarnya. Yaa cewek remaja ini sangat pinky. Dia bukan tipe
cewek yang suka sama sesuatu secara maniak, hanya warna pink yang mampu
membuatnya maniak.
Saat lexa
baru memejamkan mata beberapa detik, tiba-tiba handphone yang ia letakkan di
sebelah wajahnya bergetar.
Aduh
ngantuk berat ini, pasti si Fero deh.
Lexa agak
sedikit kesal karena dia
sedang benar-benar haus namun masih harus menunggu lima jam lagi untuk minum.
Huhh benar-benar uji kesabaran menurut Lexa. Tapi sambil kesal dia tetap
membuka chat Fero dan membalasnya.
Pikiran
Lexa tentang Fero mulai memudar karena ajakan Fero untuk jalan dengannya selama
ini terbukti hanya omong kosong. Dan Lexa sudah menyimpulkan Fero yang
benar-benar cuma iseng.
……………………………
Fero Pratama:
Eh lex jalan yuk, kita gak jadi
jadi nih jalan.
Lexa yang
sudah sangat berniat tak akan menahan kantuk untuk membalas chat Fero tiba-tiba
dikagetkan dengan kata-kata Fero yang membuatnya 100% kehilangan rasa kantuk.
Gila kali
ya nih orang. H-2 lebaran baru ngajak jalan. Emang gak punya keluarga apa dia.
Lexa cukup kesal dengan Fero namun
dia tidak mengungkapkan kekesalannya karena gak enak
sama Fero. Di dalam hati sebenarnya Lexa sangat ingin mengiyakan ajakan Fero
karena penasaran dengan cowok keren yang menurutnya udah nyasar ngechatin dia
mulu itu. Namun apa daya keluarga sudah kumpul, Lexa gak mungkin keluar H-2
begini, bisa bisa dia dipenggal sama mamahnya.
…………………………….
Me:
Lu gila kali ya, udah H-2 lebaran
ini coy mana boleh gue sama nyokap wkwk. Emang lu sendiri boleh jalan? Udah
abis lebaran aja.
Fero:
Iyasih, maaf deh. Yaa gak boleh
juga kali. Tapi udah gak jadi jadi mulu. Abis lebaran gue malah tambah gak bisa
jalan.
Me:
Yaudah selaw, kapan-kapan aja
jalannya elah.
Lexa agak sedikit kecewa karena gak
bisa mengiyakan kesempatan yang belum tentu datang lagi itu. Entah kenapa
tiba-tiba Lexa excited dengan Fero
yang sebenarnya terlalu keren buat ngajak jalan cewek se-biasa Lexa.
Sejak saat itu Lexa mulai memikirkan
Fero kembali. Mulai mengindahkan chat dari Fero namun Lexa tetap menahan agar
pemikirannya yang sudah berubah tentang Fero itu tidak diketahui oleh sicowok
aneh nan kece itu.
Fero aneh. Bukan, bukan Fero punya
style yang aneh atau kelakuan yang aneh. Fero itu cowok normal. Dengan rambut
yang dibelah pinggir, kadang ke kanan kadang ke kiri. Poni dinaikan hingga tak
ada yang menutupi keningnya. Lalu rambut sebelah kanan dan kirinya agak sedikit
tipis dibanding rambut atasnya. Jam tangan berganti-ganti yang selalu melekat pada
lengan kanannya. Tinggi yang hanya sekitar 165cm, bisa dikategorikan agak
pendek namun masih tinggi jika disebelah cewek-cewek. Lengan baju atau jaket
panjang yang selalu ia gulung sampai ke atas siku mendukung kesan kerennya dan
ditambah karunia tuhan yaitu dada dan pundak yang cukup bidang yang lebih dari
cukup untuk tempat bersandar seorang wanita.
*
Komentar
Posting Komentar