Di Sini

Sudah satu minggu. Semua terasa aneh. Seperti memiliki dan memasuki hidup baru. Dimana aku sudah terbiasa tertawa dan membahagiakan diri sendiri. Aku lupa rasanya dibahagiakan. Tidak apa-apa, setidaknya aku bahagia, dengan cara apapun.

Aku berharap dan berdoa kamu pun begitu disana. Bahagia. Dapat bahagia dengan caramu dan keputusanmu sendiri. Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan setelah aku berhenti. Yah.. sejauh ini berhenti. Mungkin lebih terlihat menyerah. Ya memang aku menyerah. Aku menyerah dengan usahaku. Tidak aku tidak gagal. Aku berhasil mencoba mempertahankanmu. Setidaknya aku sudah mencoba bukan? Maaf kalau mungkin kurang. Tapi ku rasa cukup.

Apapun itu.. aku tidak pernah tahu jelas apa yang sebenarnya sedang kamu alami, apa yang sebenarnya sedang terjadi denganmu. Aku hanya merasa paham saja apa yang terjadi, dan entahlah aku terlalu yakin dengan pemahamanku ini. Namun aku cukup. Tentu cukup mengganggumu bukan cukup menyayangimu. Tidak. Tentang itu aku tidak berhenti. Aku masih sama, tak beda. Hanya saja aku sedang mencicipi fase baru, fase dimana aku harus menghargai keputusanmu. Aku harus mengikuti apa yang kamu kehendaki. Ya selalu seperti itu bukan? Pada akhirnya aku akan selalu menjadi wanita penurut untukmu. Aku sudah membuang jauh-jauh keegoisanku. Sekarang saatnya aku membiarkanmu menjalani hidup yang kamu pilih. Tanpa aku.. Yang bagimu adalah beban. Tanpa aku.. Yang mungkin memang sudah tidak dibutuhkan atau bahkan sudah digantikan keberadaannya.

Masih sama.. setiap detiknya, aku yang sekarang tidak berbeda dengan aku seminggu lalu, sebulan lalu, atau bahkan tahun lalu ditanggal ini. Entahlah mungkin kamu sudah tidak peduli aku seperti apa. Bahkan mungkin aku hanya wanita bodoh yang terus-terusan berbicara sendiri di sini. Hanya saja aku merasa paham dan selalu pecaya bahwa kamu orang baik. Itu yang selalu aku pegang sampai saat ini. Aku harap kamu bahagia dengan aku yang memutuskan untuk mengikuti keputusanmu. Kamu tak perlu khawatir, aku di sini juga bahagia. Selama melihatmu sehat, aku pasti bahagia. Hmm.. tapi itupun jika kamu masih peduli.

Apapun itu. Apapun itu yang sedang kamu fikirkan tentangku, kamu selalu punya jalan untuk tahu tentangku, kamu selalu mendapatkan itu. Tapi aku? Aku selalu memiliki jalan buntu. Jalan 0. Aku selalu tak memiliki petunjuk sedikitpun. Aku selalu tak memiliki pernyataan dengan jelas yang terjadi. Aku tak bisa mendapatkan apapun itu tentangmu yang sebenarnya. Tak apa. Aku masih punya bekal bahwa kamu orang baik, apalagi terhadapku. Kamu selalu berniat baik. Yaa.. tak peduli kenyataannya seperti apa, aku hanya peduli pada gagasan itu. Mungkin bahkan sampai kamu jelas-jelas melakukan hal buruk, aku akan tetap melihatmu sebagai baik. Bukan.. bukan semua keputusanmu atau perlakuanmu yang selalu baik, tapi aku tau, selalu ada niat baik dari setiap hal yang kamu lakukan.

Mungkin itu bedanya kita. Aku selalu ingin memberi tahumu seperti apa aku. Dan kamu, jika mau, dengan mudah akan mendapat apapun itu tentangku sekalipun aku tak memberi pernyataan apa-apa. Tapi kamu, selalu dengan pemikiran dan keputusanmu sendiri. Tak apa. Aku sudah mulai biasa dengan itu. Dan aku, seperti biasa pula, tak pernah bisa menembus tembok pertahananmu sampai kamu sendiri yang mengatakannya. Tak apa. Aku mulai beradaptasi dengan itu. Maaf mungkin adaptasiku lama, atau telat.

Apapun itu, aku selalu berdoa yang terbaik untuk kita. Kalau kamu menemukan orang baru, aku berharap dia tak menyakitimu seperti yang sebelumku.. dan.. seperti aku. Aku berharap kamu mendapatkan wanita yang tepat. Walau aku selalu berharap pula aku adalah wanita itu, tapi entahlah.. hanya saja aku mulai merasa kalah dari kata 'tepat' itu.

Aku di sini. Sudah lelah dengan orang baru. Sudah tak peduli dengan beberapa orang yang hadir seperti ingin menggantikanmu. Oh.. tidak, tidak ada bahkan sampai hari ini. Hanya ada mereka-mereka yang.. sebatas teman. Aku lihat tak punya niat lebih. Dan aku jugak tak ada niat lebih. Aku selalu berharap.. berdoa.. semoga tak ada lagi yang datang kepadaku. Biarkan aku di sini. Berdiri tegap, berjalan menjalani hidupku bersama segala hal yang masih ada di sampingku. Berdiri tegap, membawa banyak bekal dan keyakinan atas gagasan itu. Berdiri tegap, seperti yang kamu suruh, seperti yang kamu bilang aku harus bangun. Yaa.. lagi-lagi aku mengikutimu saja. Aku sudah bangun, berdiri sendiri, tidak dibantu olehmu. Dan semoga kamupun sama, kamupun sudah berdiri, sudah bangun, semoga kamu sudah bisa melewati kesulitanmu untuk bangun dan berdiri tegap.

Aku salah beberapa waktu lalu memilih untuk terlihat lemah agar kamu lihat aku tak kuat. Aku hanya mencoba tak kuat agar masalah cepat selesai. Hanya saja mungkin kamu lebih tahu bahwa aku jauh lebih kuat dari yang terlihat, jadi kamu tahu, tak perlu mengibaku. Dan kamu memang selalu bisa menghadapiku. Aku tahu, aku jauh lebih kuat dari yang aku bayangkan. Aku jauh lebih bisa dari yang aku takutkan. Aku sekarang sudah kembali, menjadi wanita kuat yang seperti biasanya kamu tahu. Hiraukan seberapa hancurnya dalam hati dan pikiranku, yang jelas aku sudah berdiri dengan gagahnya. Aku harap kamupun begitu, bahkan semoga lebih kuat dan lebih berbahagia dibandingkanku.

Aku di sini.. menjalani hidup. Hidup yang semakin hari semakin berkurang sisa umurku. Aku sadar. Seperti apapun yang aku alami, detik tak akan pernah mentolerir diriku. Dia akan terus berjalan. Tak peduli aku menghabiskannya dengan seperti apa. Dia terus berputar. Dan sudah cukup aku menyia-nyiakan banyak detik yang ada. Aku harus terus berjalan, bahkan berlari supaya tidak kalah oleh detik. Aku sudah tidak ingin menyianyiakan oksigen yang tuhan berikan gratis untukku. Aku ingin memanfaatkannya dengan baik. Dan menghasilkan aku punya keahlian baru sekarang. Aku ahli memikirkanmu. Dan pada akhirnya aku bisa menjalankan semuanya secara bersamaan. Percaya atau tidak. Setiap detik tak pernah terlewat tanpa tetap tersebut namamu di dalam otakku. Aku mengerjakan dan memikirkan banyak hal bersamaan dengan mesin bertemakan 'kamu' yang aktif bekerja di dalam otakku. 24 jam nonstop.

Aku di sini. Di sebuah tempat. Mungkin sudah tidak ada ruangan kita. Mungkin sudah tidak ada rumah kita. Entahlah ini apa. Hanya sebuah tempat. Di sisi lain dari diriku yang terus menjalani hidup, memperbaiki diri, menggapai segala yang harus ku gapai. Di sisi lain. Aku tetap terdiam dan kabar baik! Sudah tidak dengan air mata. Tapi dengan sebuah senyum tipis. Entah menanti entah berharap. Aku tau aku tidak boleh menantimu dan berharap kepadamu. Hanya saja aku ingin mengatakan, aku di sini. Bukan tempatmu pulang mungkin karna sudah tidak ada rumah mungkin. Tempat apapun ini. Aku di sini. Bukan untuk orang lain menempati tempat ini. Hanya saja.. hanya kamu yang bisa menempati tempat ini. Bukan orang lain. Di sisi lain hidupku. Aku selalu percaya.. setersesat apapun, cinta tau jalan kembali.

Jangan lihat itu adalah pengharapan yang masih ada. Itu hanya tempat, yang entahlah darimana adanya. Tidak berisikan harapan atau penantian apapun sama sekali. Aku hanya berdiam di situ, tak berisi apa-apa, hanya diam.
Hanya ingin kamu tahu. Masih ada tempat jika ingin kembali, seperti apapun aku yang kamu lihat. Tidak hanya untuk hari ini. Tapi sampai nanti dan aku lihat akan sampai seterusnya. Namun.. hiraukan saja hiraukan jika kembali memang sudah tidak akan. Ini hanya supaya kamu tahu. Supaya kamu tak sulit. Supaya kamu tak meragukan apapun. Jika.. jika ingin kembali. Ini hanya tentang kata 'jika' saja.

I'm here. I stay. Stay here.

Senin, 19 Oktober 2015.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PULANG

Tidak Sempat

Warna Berbeda Yang Sudah Menghilang