Hay Langit

Selamat malam, langit. Tadi sore aku lihat kamu mendung, kenapa begitu? Ayolah tumpahkan saja hujannya. Banyak orang yang bahagia saat hujan tiba. Begitupula aku. Aku mau cerita sama hujan. Tapi kamu tidak kunjung juga menurunkan butiran-butiran menyejukkan itu. Kalau begitu, aku cerita sama kamu sajalah langit.

Langit.. kamu pasti menyaksikan, atau mungkin kamu ikut merasakan, makanya kamu ikut mendung saat sore hari, saat hujan sering terjadi di mataku. Entahlah apa yang aku rasakan sekarang. Aku seperti terombang-ambing ditengah lautan, di dalam kapal yang besar, namun hanya sendirian. Yang lain ada, tapi di kapal lain, tidak terombang ambing, hanya bisa memberi saran caranya lolos dari keadaan ini.

Langit, aku sedih. Aku sedih sekali harus kehilangan dia. Semua begitu cepat terjadi. Sangat abu-abu yang mana pokok penyebabnya. Atau mungkin semuanya adalah penyebab aku kehilangan dia.

Sebenarnya aku mengerti, aku paham, aku tau kenapa bisa seperti sekarang. Dan walau aku selalu tak bisa, aku setuju dengan perpisahan ini. Aku dan dia tidak pernah janhian untuk memikirkan perpisahan. Namun ternyata kita dihampiri pikiran yang sama. Hanya saja.. entahlah kenapa dua visi yang sama sangat sulit terealisasikannya. Mungkin visi yang sama tidak cukup jika tidak diiringi oleh misi yang sama. Tapi aku percaya, visi aku sama dia itu sama. Mungkin hanya akunya saja yang ceroboh dalam mengambil sikap atau mungkin semua hanya soal waktu.

Langit, aku paham betul bagaimana misi dia. Seperti yang dia pernah bilang, aku sebenernya memahami dia, aku cuma ga percaya diri, aku cuma gak yakin, dan.. aku selalu takut, jadi semua yang aku pahami hanya terkubur dalam-dalam terkalahkan oleh rasa takut.

Langit, tolonglah aku, tolong sampaikan.. yang mengganjal dari ku adalah, kenapa harus tidak baik-baik seperti ini. Jujur aku merasa tidak adil saat aku harus menjadi orang lain untuknya sementara yang lain bisa dengan mudah menyaksikan tawanya, saat orang lain bisa dengan mudah tertawa karenanya, saat orang lain memiliki kesempatan membuatnya bahagia, saat orang lain memiliki kesempatan meringankan bebannya.
Kenapa tidak bisa baik-baik saja? Apa sebesar itukah kecerobohanku? Apa sebesar itukah kesalahanku? Apa sudah habis kesempatan untukku? Entahlah langit.. aku cuma bisa bertanya-tanya. Aku cuma bisa di sini, dalam diam, diam sepertimu, menatapnya, memejamkan mata dan berdoa untuknya, untuk kita.

Sampaikan juga wahai langit.. sampaikan aku cemburu. Aku benci,langit. Aku sayang dia, aku ingin menjadi wanita paling sabar untuknya, tapi langit, aku benci saat ada perempuan lain didekatnya. Aku tidak bisa bersabar untuk itu. Bukan.. bukan karna aku egois ingin dia tak berhubungan sama sekali oleh wanita lain. Bukan pula karna aku takut ada yang menggantikan posisiku. Aku percaya dia, aku mengerti dia, aku tahu dia, semoga aku benar atas pemahaman tentangnya. Hanya saja.. aku hanya cemburu. Aku hanya tidak suka wanita lain merasakan rasa sepertiku kepadanya. Aku tidak ingin ada yang mencintainya sepertiku, apalagi lebih. Aku tidak ingin ada yang nyaman dengannya.

Langit.. aku sayang dia. Tolong sampaikan itu setiap hari, setiap paginya membuka mata dan setiap malamnya menutup hari. Ya.. pertanyaanmu benar. Kenapa aku tidak menyampaikannya langsung? Maaf langit, aku lemah, aku tidak kuat. Aku tidak kuat jika mendapat jawaban yang sangat aku rasakan itu bukan dia yang biasanya. Entah apa yang dia fikirkan. Hanya saja nyaliku cuma sampai di sini. Di blog ku. Dalam diam. Dan semoga dia membacanya.
Ohya.. jangan lupa sampaikan rinduku juga. Setiap pagi aku akan berkata 'selamat pagi sayang, aku rindu' dan setiap malam aku berkata 'selamat malam cinta, aku terus rindu'. Semoga dia mendengar ya langit, semoga kamu tidak lupa menyampaikan kepadanya. Dan sampaikan padaku, sampaikan saat dia di sana kenapa-napa. Kabarkan ya langit,aku selalu menjadi orang yang selalu ingin tau kabarnya.

Aku sayang kamu.
Kalimat diatas itu untuk dia yang selalu ku rindukan, bukan untukmu langit, jangan geer dulu.

Selasa, 29 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PULANG

Tidak Sempat

Warna Berbeda Yang Sudah Menghilang