2. Jadian Yuk


             Hari ini Lexa siap tempur kembali, dia begitu bersemangat untuk sekolah lagi. Lexa rindu dengan sekolahnya, yaa walau sudah tidak ada sosok manusia yang dirindukannya di sekolah tapi entah mengapa dia hanya rindu dengan suasana sekolah. Lexa berharap hari ini tidak buruk dengan kelas barunya yang baru akan diumumkan.
            Saat melihat daftar nama-nama kelas setelah upacara, Lexa terkejut. Dia kesal mendapat kelas 11 ipa 6, lagi-lagi kelas pojok. Benar-benar sial menurutnya. Namun saat dia melihat nama-nama orang yang ada dikelasnya, yaa not bad lah, pikir Lexa. Ada beberapa orang yang memang sudah dia kenal sejak SMP dan ada mantannya juga. Lexa senang bisa sekelas dengan mantan yang sudah dua tahun terakhir itu menjadi stranger semenjak mereka putus. Bukan dia senang karena masih memendam rasa, tapi Lexa senang karena dia berharap bisa berteman dan baik-baik saja dengan mantannya yang bernama Ian itu.
            Sepulang sekolah, yang hari itu hanya berisi perkenalan dan basa basi dari walikelas, Lexa ingat Fero yang dichat semalam mengajaknya pulang bareng. Lexa tidak mau terlalu berharap Fero akan datang namun dia penasaran apa cowok ini beneran.
“gimana lex? Lu jadi bareng Fero? Kalo gak jadi ayo balik sekarang” Tanya Vita yang sedang berdiri di sebelah.
“gak tau gue juga. Bentaran deh.” Lexa yang tidak ingin berharap tetap menunggu.
Setelah 10 menit berlalu dan sekolahan masih dalam keadaan ramai.
“mana lex? Jadi gak? Gue balik nih kalo lu mau nungguin dia” Tanya Vita dari belakang Lexa dan membuat Lexa berbalik badan. Namun apa yang dilihatnya begitu mengagetkan, tidak ada getaran atau perasaan deg-degan yang ada di cerita-cerita jatuh cinta pada pandangan pertama. Hanya saja Lexa kaget betul karena cowok keren itu benar-benar mendatanginya.
“jadi gak?” Tanya Fero dibelakang Vita.
Lantas Lexa langsung mengangguk dan Vita mengetahui keberadaan Fero dibelakangnya.

*
            Satu minggu sudah berlalu semenjak Lexa pertama kali diantar pulang oleh Fero. Selama satu  minggu Lexa sudah beberapa kali diantar pulang oleh Fero walaupun tidak sampai depan rumah persis, karena Lexa memiliki ibu yang begitu galak jadi anak perempuan bontotnya ini tidak boleh diantar pulang oleh seorang laki-laki kecuali keadaan mendesak.
            Hari ini,sepulang sekolah, Lexa dan Fero sedang duduk-duduk di depan kelas. Fero membawa gitar. Lexa memintanya untuk bermain gitar. Tapi apalah daya Fero begitu gerogi didepan Lexa. Mereka mengobrol, tertawa, bercanda, layaknya dua orang yang sudah berkenalan sejak lama. Mereka begitu nyambung dan akrab.
            Hari sudah semakin sore, mereka sampai lupa waktu dan hanya tersisa Fero dan Lexa di koridor kelas 11. Akhhirnya mereka menyerah pada waktu-yang sebenarnya sangat ingin mereka hentikan agar bisa menghabiskannya bersama lebih lama-lalu mereka pulang.
            Di motor, di perjalanan pulang, mereka mengobrol banyak hal. Saat sudah dekat dengan komplek rumah Lexa, Fero menanyakan hal yang cukup membuat Lexa heran.
“Lex, gak bosen apa sendiri?” Tanya Fero tiba-tiba.
“hah? Maksudnya?”Lexa heran.
“iya gak bosen apa sendiri, yaa jomblo gitu. Gak mau cari pacar emang?”
Lexa sedikit tertawa.
“hmm.. enggak bosen juga si. Lagi nikmatin aja sendiri. Kalo pacar mah gak usah dicari-cari, entar juga dateng sendiri. Tapi emang lagi seneng aja sendiri.”
Lalu Lexa menengok kebelakang, melambaikan tangan kanan kepada kendaraan yang ada di belakangnya bermaksud memberi tanda bahwa motor yang sedang ditumpanginya ingin berbelok ke kanan. Disaat yang bersamaan Fero mengucapkan dua kata yang sama sekali tidak terdengar jelas oleh Lexa.
“hah? Apaan? Gak denger tadi” Tanya Lexa
“gak denger?”
“iya gak kedengeran sama sekali ngomong apa?”
“serius serius.. beneran gak kedengeran?”
“iih iya beneran gak kedengeran, ngomong apa si emang?”
Fero hanya diam.
“ro, ngomong apa si? Beneran ga kedengeran deh. Ko diem?”
“iyaa.. tadi tuh gue ngomong jadian yuk”
“hah? Terus?” Lexa sangat amat kaget sekaligus menahan tawa. Ya tentu saja tertawa senang.
”yaiya.. udah gak ada terusannya”
Lantas Lexa langsung tertawa, dia tidak bisa menyembunyikan perasannya yang bercampur aduk. Dia shock, gak nyangka secepat ini, merasa lucu juga karna dia terlalu budi (budek dikit) sampai tidak mendengar dua kata yang pasti sangat sulit dikeluarkan oleh Fero. Lexa juga tertawa karena cara fero menembak yang sangat to the point tanpa basa basi dan hanya dengan dua kata.
Tapi Lexa sudah menyiapkan jawabannya jauh sebelum Fero menyatakan seperti ini. Lexa baru saja jatuh kembali. Ditinggalkan begitu saja untuk kedua kalinya selama dua tahun berturut-turut. Dengan Fero pun dia tidak begitu kenal. Bahkan mungkin sama sekali tidak tahu. Sama sekali buta tentang Fero dan hidupnya. Namun Lexa tahu, Fero sudah memegang banyak hal tentangnya. Entahlah darimana. Yang jelas Fero benar-benar berusaha sendiri tanpa bertanya sedikitpun ke siapapun. Dia adalah laku-laki yang luar biasa dimata Lexa. Dia tidak mau menyianyiakan laki-laki berbeda yang dikirim tuhan untuknya. Hanya saja.. Lexa baru mengetahui bahwa baik dan menyenangkan saja tidak menjadi jaminan bahwa ia tidak akan ditinggalkan. Si malaikat.. yaa yang dia fikir malaikat penolong, justru adalah malaikat penghancur baginya. Si malaikat adalah orang yang sangat baik, kepada siapapun, tapi nyatanya malaikatpun bisa pergi seketika.
Hari itu.. Lexa menolak Fero dengan halus. Dia tak perlu menceritakan ulang semuanya. Dia hanya perlu menjelaskan singkat bahwa ini terlalu cepat dan ditinggalkan begitu saja selama dua kali berturut-turut bukan hal mudah untuknya membuka hati lagi, apalagi dengan orang yang belum banyak ia tau. Namun Lexa meminta Fero agar tidak berubah. Lexa bukan bilang tidak, tapi belum untuk saat ini. Fero mengeti. Namun Lexa tidak yakin apa laki-laki ini akan tetap mengusahakannya atau tidak. Lexa tidak terlalu memikirkannya. Karena ia memang belum memiliki perasaan apa-apa kepada Fero dan memang menahan perasaan itu dulu. Walau begitu, ia memang sudah menemukan kecocokan diantara mereka.
*
            Setelah hari itu, hari dimana Fero menyatakan kalimat penting kepada Lexa, dia sama sekali tidak berubah. Dia masih bersikap seperti biasa kepada Lexa. Hal ini cukup membuat Lexa lega. Entahlah lega karena apa, dia hanya lega karena Fero tetap ada untuknya.
            Hari ini Lexa ulang tahun. Namun sayang, Fero sedang pergi cukup jauh untuk memenuhi undangan mengisi suatu acara karena dia adalah pemain bass dari sebuah band indie, berangkat pagi sekali dan pulang larut malam tidak akan sempat menemui Lexa. Lexa agak sedikit kecewa. Ia fikir ulang tahunnya kali ini akan ada yang menemani, nyatanya tidak. Tapi tidak apa-apa. Ia mengerti dan memang harus mengerti Fero yang tidak bisa membatalkan undangan itu begitu saja.
            Saat siang hari Lexa mendapat kejutan kecil. Ia senang. Oh tidak.. ia tidak senang. Ia tertawa.. tertawa bahagia. Ya, Lexa bahagia. Fero mengirim voice note yang berisi cover lagu happy birthday dan ucapan ulang tahun di hari yang Lexa tau seharusnya Fero tidak sempat merekam voice note seperti itu. Lexa merasa ini sungguh tepat sasaran. Dia bukan tipe wanita yang senang diberikan hadiah berupa barang atau makanan, atau pula kejutan yang sudah dipersiapkan matang-matang. Dia hanya wanita sederhana yang juga menyukai kesederhanaan. Entah kenapa, justru hal-hal kecil lah yang bisa membuat hati wanita ini melambung tinggi. Hari itu, Fero berhasil membuat Lexa bahagia.
*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PULANG

Tidak Sempat

Warna Berbeda Yang Sudah Menghilang