Mengalir
Dan malam ini.. aku jujur lagi. Tidak bukan kepadanya. Bukan juga kepada siapapun. Aku jujur lagi. Pada diri sendiri. Aku mengakuinya lagi. Ya.. aku mengakuinya. Aku masih merindukannya. Aku masih bersedih karenanya. Aku sangat takut hari itu terjadi.. hari dimana dia benar-benar akan bersama orang lain. Aku masih berharap takdir berpihak padaku. Aku mencintainya sama, tak ada yang berubah. Bukan.. bukan orang lain. Cuma dia.. hanya dia. Ya aku akui itu. Hal yang aku simpan untuk menjaga hatiku agar tidak kecewa lagi. Kini terbuka kembali. Entah mengapa.. begitu sulit menerima kenyataan. Aku sudah mencoba. Aku sudah berusaha. Aku sudah menutupnya rapat-rapat. Aku sudah mengajari diriku agar terima semuanya. Aku sudah mengajarkan diriku bahwa kebahagiaan ada dimana-mana. Namun tidak... tidak begitu. Ya.. aku sudah tidak seburuk dan semenyedihkan sebelumnya. Tapi aku akui. Aku masih terpukul. Aku masih memikirkannya. Aku masih merasa kehilangan. Aku akui. Diriku yang terdalam.. tak pernah ada niat untuk pergi dari dirinya. Tak pernah ada niat untuk cari penggantinya. Tak pernah ada niat untuk membencinya. Ya.. akhirnya aku mengakui itu. Malam ini penyakit itu muncul. Penyakit tak bisa tidur. Gelisah. Entah kenapa. Aku ingin tidur nanti. Lalu aku tambah memikirkannya. Dan semua terbuka begitu saja. Seperti yang aku ceritakan tentangnya pertama kali di blog ini. Semua tentangnya hanya mengalir begitu saja. Tak ku sadari tak ku perintah. Aku tak bisa mengontrol apa-apa. Empat bulan sudah. Rasa ini tetap mengalir begitu saja. Aku tak mau kecewa lagi. Aku takut.. takut melihat atau mendengar dia bersama yang lain lagi. Aku takut hancur lagi. Aku harus mencegah hari itu lagi. Tapi kenapa semuanya semengalir ini. Kenapa waktu empat bulan belum mengubah apa-apa? Malam ini. Air mata itu ada lagi. Air mata rindu itu keluar lagi. Yaampun.. ku fikir kau sudah kering bung. Nyatanya masih keluar. Masih sama kah semua perasaan itu? Kau mengalir karena rindu ya? Karena memikirkannya sepanjang waktu ya? Karena takut dia bersama wanita lain ya? Karena masih mencintainya,begitu? Hei.. kenapa usahaku tak ada yang berhasil? kenapa semua terbuka lagi? Kenapa tumpah lagi? Sudah lama kau tak keluar. Ternyata aku berhasil menipu diriku sendiri juga. Yaa.. yaa.. sekarang ku akui. Semua masih sama. Tapi aku tak bisa terus begini. Aku harus jalani kenyataan yang ada. Aku sangat takut untuk kecewa dengan harapan yang tak ada artinya. Aku sangat takut kecewa dengan harapan yang hanya ku buat-buat sendiri. Hei diriku! Tak mengertikah bahwa dia sudah tak mencintaimu lagi? Tak pahamkah kau dengan bahasa indonesia? Jangan bilang kau amnesia atas semua kejujuran yang telah dia ucapkan. Yang sama sekali tak berpihak padamu. Yang sudah amat jelas semua telah selesai. Kau harus berhenti! Semua perasaan ini.. berhentilah mengalir. Setidaknya berhenti sedikit demi sedikit. Jangan terus mengalir sederas ini. Jangan sampai kau belum berhenti mengalir saat melihat atau mendengar dia bersama orang lain lagi. Kau tak boleh merasa hancur lagi. Ayolah.. satu-satunya cara hanya itu tak ada yang lain. Dia tak kan kembali. Hari ini sudah tak sama dengan satu tahun lalu. Jangan hancur lagi.. kumohon jangan sekacau itu lagi, kumohon.
Komentar
Posting Komentar